Belajar Bisnis di Dunia Maya

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/11/2041006620X310.jpg

FUJISAWA, KOMPAS.com – Totok Suhardijanto, warga Indonesia yang tinggal di Fijisawa, salah satu kota di Jepang yang langsung menghadap Samudera Pasifik, menuliskan pengalamannya di social media Kompasiana saat terjadi tsunami.

Berikut laporan selengkapnya….

Sejak datang pertama kali di Jepang, saya kerap mendapat informasi tentang kemungkinan adanya gempa besar bersiklus 100 tahunan: Gempa Tokai (gempa pesisir timur Jepang). Itu adalah gempa yang ditakuti oleh warga yang tinggal di wilayah yang menghadap ke Samudera Pasifik. Kota saya, Fujisawa, adalah kota pantai yang juga menghadapi samudera itu. Apakah yang baru saja saya alami kemarin itu Gempa Tokai? Saya tidak tahu. Tetapi apa pun itu, saya tak ingin lagi mengalami gempa yang sebesar kemarin.

Ketika gempa berkuatan 8,8 M itu terjadi, saya sedang berada di dalam laboratorium di kampus bersama seorang teman Jepang saya. Saya sempat bertanya kepadanya ketika tiba-tiba mulai merasakan goncangan yang sedikit demi sedikit menguat. “Jishin desuka? (Gempa ya?)” kata saya. Dia mengangguk sambil bingung.

Semula saya ingin bertahan di dalam ruang lab, namun beberapa orang dari lab lain berlarian keluar gedung. Saya ingat pintu lab kami berkunci elektronik. Takut jadi rusak dan sulit terbuka kalau gempanya makin besar, saya dan teman saya memutuskan keluar mengikuti kebanyakan orang yang sudah keluar duluan.

Subhannallah. Baru kali itu saya melihat permukaan bumi seperti tampah yang diguncang-guncang ke sana kemari. Pohon, gedung, tiang listrik, semuanya bergoyang. Sulit berdiri, beberapa orang–termasuk
saya–mencoba duduk di tempat yang jauh dari bangunan. Pikiran saya langsung teringat istri dan anak-anak di rumah. Mudah-mudahan Tuhan bersama mereka.

Sempat panik ketika melihat aspal tak jauh dari tempat saya duduk retak. Kepala juga agak pusing karena efek guncangan. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa. Gempa itu berlangsung kurang lebih satu menit. Cukup lama. Itulah yang membuat trauma sampai saat ini. Getarannya masih teringat sampai sekarang.

Ketika gempa selesai, saya langsung berusaha menghubungi keluarga di rumah, tetapi jaringan telepon sama sekali tidak bisa dipakai. Ketika sudah tenang kembali, saya mencoba masuk lagi ke dalam lab dengan pikiran yang kalut. Buku-buku, monitor, LCD projector, dan lain-lain berserakan di lantai. Alhamdulillah laptop saya masih ada di atas meja dan jaringan internet pun ternyata masih jalan. Saya berharap istri saya segera mengunggah status di Facebook supaya saya bisa tahu kondisinya. Alhamdulillah, dalam hitungan menit saya lihat status istri saya. Itu membuat saya sedikit tenang. Setelah itu baru saya mengirimkan pesan lewat Twitter dan Facebook. Kedua aplikasi social media itu ternyata menjadi satu-satunya jaringan komunikasi yang cepat dan masih utuh. Dengan Twitter dan Facebook pula saya bisa bertukar kabar dengan teman-teman lain di kota lain di Jepang.

Hal yang sangat saya kagumi pada orang Jepang adalah kesiapan mereka menghadapi bencana yang luar biasa besar ini. Itu membuahkan ketenangan bagi mereka, baik masyarakat, petugas, maupun pemerintah, dalam menghadapi situasi seperti ini. Kesiapan masyarakat barangkali merupakan hasil dari latihan tanggap bencana yang berkali-kali dan secara rutin terus dilakukan. Anak saya yang masih balita pun diberikan latihan khusus agar terbiasa terhadap situasi bencana. Dalam kesempatan tertentu, pemerintah kota setempat memasyarakatkan informasi gempa kepada warga, khususnya anak-anak, dengan menyediakan truk simulator gempa seperti di bawah ini. Kepada warga asing pun disediakan buku manual darurat gempa dalam pelbagai bahasa, seperti bahasa Inggris, Korea, Cina, Portugis, Spanyol, Vietnam, dan lain-lain.

Selain ketenangan masyarakatnya, salah satu hal yang mengagumkan saya adalah kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Jadi, tidak ada kerusuhan atau kegelisahan yang tersebar pada masyarakat. Mereka dengan patuh terus mengikuti perkembangan berita dan informasi dari badan resmi pemerintah. Kami, warga asing, yang tinggal di Jepang pun akhirnya menjadi ikut tenang. Nampak sekali bahwa otoritas informasi di Jepang telah mempersiapkan diri dengan baik sehingga tidak muncul sms-sms tidak jelas seperti yang biasa meresahkan masyarakat Indonesia pada saat bencana. Semua informasi bersumber pada satu badan yang mendapat otoritas dari pemerintah. Pihak-pihak provider telekomunikasi pun saling bahu-membahu menyediakan layanan darurat yang bisa digunakan secara bebas dan lintas provider. Hal itulah yang saya kira patut dicontoh oleh pemerintah Indonesia. Sebenarnya, di Indonesia, saya sudah melihatnya ketika bencana Merapi di Yogyakarta kemarin dengan tampilnya Mbah Rono yang menjadi otoritas informasi.

Karena gempa susulan masih terus terjadi, kami tetap harus waspada. Kekhawatiran akan kebocoran di instalasi reaktor nuklir di Fukushima pun masih menghantui meskipun Amerika Serikat telah memberikan bantuan tenaga ahli dan teknologi. Meskipun semuanya tampak terkendali, ada juga hal-hal lain yang terjadi sebagai akibat bencana ini. Di kota tempat saya tinggal, makanan siap saji sejak semalam mulai diserbu oleh masyarakat. Semalam ada ribuan orang yang terpaksa tidak bisa pulang karena jaringan transportasi lumpuh. Semoga tidak ada WNI yang menjadi korban. Semoga masyarakat, pemerintahan, dan perekonomian Jepang pun dapat kembali pulih dengan cepat.

Iklan

Comments on: "INILAH GEMPA YANG PALING DITAKUTI WARGA JEPANG" (4)

  1. sya turut brduka cita kpda kota jepag..
    warga jepang hrus smngat .. jgn mnyerah.,,.!

  2. itu blm seberapa, makanya manusia2 jgn pada berbuat maksiat, berbuat zolim dan saling membunuh, itulah akibatnya, bisa saja kiamat itu dipercepat wkt nya..klo kita manusia tidak ada yg sadar dan masih aja berbuat maksiat dan masih saling membunuh, lalu apa yg akan terjadi nnti..sungguh mengerikan

  3. Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!

  4. Baru digoyang saja kecongkakan manusia sudah lumpuh, tak berdaya, bingung dan apa yang harus diperbutnya, itu hanyalah peringatan kecil dari Tuhan semesta alam, sebenarnya tak ada yang kuasa didunia ini, manusia lemah berasal dari setetes air yang terbuang, , demikian Rabb alam semesta memperingatkan tidaklah kau lupakan penciptamu, jadilah engkau orang yang baik, ikutilah dan laksanakan aturan Tuhanmu,tidaklah di ingkari, engkau akn hancur oleh kecongkakan dirimu sendiri, tak adayang mamppu menahan bumi ini, siapapun manusia atu jin jika Rabbmu berkehendak, yang mampu menolongmu adalah kebaikanmu sendiri, bukan kepandaian,bukan kekuatan dan kehebatanmu tehnologimu, Allah swt akan menyelamatkanmu jika engkau baik padanya ,maka jika manusia khususnya bagi kaum de hep disuruh berbuat baik menolong yang lemah, akan tetapi jika ditolak alias tidak mau maka ketetapan Tuhan berlaku manusia akan dihancurkan rata dengan tanah( Al Isra ayat.16) semua itu terjadi karena kekikiran manusia karena enggan berbuat baik, yang dipikirkan hanyalah keuntungan duniawi hingga masuk keliang kubur( At Takatsur 1-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: